Khasiat Tempe Kedelai Hitam


Tempe merupakan makanan yang dibuat dari bahan nabati yaitu kedelai dengan cara difermentasi menggunakan jamur Rhizopus oligosporus dengan ciri khas produk warna putih, tekstur kompak dan flavor khas campuran aroma jamur dan kedelai. Tempe banyak di koksumsi masyarakat sebagai lauk dengan cara digoreng, dikukus saja, dijadikan sambal tempe maupun masakan seperti tempe bacem.

Cara pembuatan tempe sebagai berikut:

    1. Pemilihan dan pencucian kedelai

    Biji kedelai yang dipilih dengan dilihat fisiknya bagus atau tidak, bernas, dan padat

    berisi. Pemilihan tersebut digunakan agar dapat menghasilkan tempe yang baik dan berkualitas.

    2. Perendaman awal

    Kedelai direndam dalam air selama 12 jam, yang mana dalam proses ini akan memudahkan

    pengupasan kulit biji bekedelai. Pada saat kedelai direndam berlangsung proses fermentasi

    oleh bakteri yang ada di air.

    3. Pengupasan kulit

    Pengupasan kulit dapat dilakukan dengan cara biji kedelai yang diinjak-injak, jika produksi

    tersebut dalam jumlah yang besar. Sementara itu, jika produksi rumahan maka caranya bisa

    lebih higienis, yaitu dengan alat pengupas biji.

    4. Perendaman lanjutan

    Perendaman lanjutan dilakukan agar kedelai mencapai tingkat keasaman yang baik, yaitu

    sekitar 3,5 hingga 5,2 pH.

    5. Pencucian kedelai yang telah direndam

    Pencucian berfungsi untuk menghilangkan bakteri dan mikroorganisme yang tumbuh selama

    perendaman, serta membuang kelebihan asam dan lendir yang terproduksi

    6. Perebusan lanjutan

    Proses perebusan lanjutan berfungsi sebagai proses sterilisasi untuk mematikan

    mikroorganisme yang tumbuh selama perendaman. Lama perebusan tergantung pada kondisi bahan yang

    umumnya memakan waktu 40-60 menit.

    7. Penirisan dan pendinginan

    Biji yang telah direbus ditiriskan dengan ditebarkan di atas nampan yang lebar dan besar

    agar lebih mudah tiris dan dingin.Daun pisang adalah bahan pembungkus alami yang

    digunakan dalam proses pembuatan tempe.

    8. Penambahan ragi

    Penambahan ragi pada kedelai dilakukan pada suhu sekitar 37°C. Setiap 1 kg biji kedelai,

    takaran ragi yang digunakan adalah satu sendok makan. Kemudian di aduk dan dicampur rata

    yang dilakukan di atas nampan.

    9. Pembungkusan bahan

    Bahan untuk membungkus bisa menggunakan bahan alami seperti daun jati dan daun pisang,

    atau bahan buatan seperti plastik yang dinilai lebih praktis dan efisien.

    10. Fermentasi, pemecahan senyawa kompleks

    Setelah dibungkus, calon tempe difermentasikan pada suhu kamar 38-40°C. Suhu dijaga agar

    tidak lebih dan tidak kurang dari suhu yang telah ditentukan. Fermentasi tempe dilakukan

    selama 1-2 hari.


    Proses fermentasi pada tempe memiliki beberapa keunggulan yaitu daya cerna protein dan kandungan asam amino esensial yang lebih tinggi, zat anti gizi yaitu antitripsin dan asam fitat yang jauh lebih rendah dibandingkan kedelai. Pada tempe, terdapat enzim-enzim pengurai yang dihasilkan oleh jamur tempe, sehingga protein, lemak dan karbohidrat menjadi lebih mudah dicerna. Tempe kedelai hitam dinilai memiliki rasa lebih enak karena kandungan asam glutamat lebih tinggi dibanding tempe kedelai kuning. Terdapat data yang menunjukkan bahwa tempe kedelai hitam memiliki aktivitas enzim superoksida dismutase (SOD) lebih tinggi. Enzim tersebut dikenal sebagai enzim antioksidan yang dapat merubah radikal bebas oksigen menjadi komponen yang netral. Peneliti lain juga melaporkan bahwa aktivitas antioksidan dari tempe kedelai hitam lebih tinggi dibanding tempe kedelai kuning. Dengan demikian dapat dikatakan tempe kedelai hitam lebih mampu menghambat reaksi oksidasi yang disebabkan oleh adanya radikal bebas dibanding dengan tempe kedelai kuning. Keunggulan dari tempe kedelai hitam ini tentu selaras dengan bahan baku yang digunakan dalam pembuatan tempe. (Nurrahman, 2018 Universitas Muhammadiyah Semarang).


Komentar